Eksistensi Masakan Palestina Dimata Penulis

November 2016, penulis buku masak Yasmin Khan kembali ke London setelah panen zaitun di Tepi Barat ada satu masalah yaitu tidak peduli seberapa keras dia berusaha, dia tidak bisa menulis. Naskahnya tentang memasak Palestina yang untuk musim semi berikutnya. Tetapi gambar‐gambar dari pos‐pos 'pemeriksaan' militer dan tentara Israel yang dia lihat sepanjang perjalanannya di Tepi Barat dan Gaza memenuhi kepalanya.

Sebagai seorang penulis, merasa takut melawan dorongan untuk menyensor kata-kata sebelum mencapai halaman utama adalah hal yang lumrah terjadi. “Zaitoun: Resep Dari Dapur Palestina,” oleh W.W. Norton & Company, mendokumentasikan perjalanan Khan, menerangi keindahan masakan Palestina dan realitas politik yang menyelimutinya. Dia menggambarkan karyanya sebagai “antropologi kuliner,” menggunakan makanan sebagai media untuk menumbuhkan pemahaman budaya.

Khan melihat keindahan luar biasa selama dua perjalanan penelitian, dia terpesona oleh kualitas produk. Kembang–kol tumbuh lebih besar dari yang pernah dilihatnya dalam hidupnya. Khan memotongnya menjadi kuntum-kuntum kecil, daun utuh dan memanggangnya di oven. Menyajikan dengan lembut ke dalam `semangkuk` sup yang dibuatnya pagi itu dari kembang—kol panggang yang dibumbui dengan bawang putih, kentang, dan kunyit.

Makanan Palestina dibagi menjadi 3 kategori, ia menjelaskan bahwa ada masakan berbasis roti dan daging di Tepi—Barat, yang meliputi Yerusalem—Timur dan membentang ke Sungai Jordan. Makanan Galilea berada di Israel dan termasuk kota-kota seperti Nazareth dan sangat mirip dengan masakan Levantine dengan tabbouleh serta kibbehnya. Memasak di Jalur Gaza yaitu daerah padat yang berbatasan dengan Mesir membuat sebagian besar berbasis ikan dan berapi-api.

Di antara hidangan Gaza yang paling berharga adalah zibdiyit gambari yaitu sup tomat yang dibumbui dengan jalapenos dan berbintik-bintik dengan dill (semacam sayuran). Rebus kental dengan panas, udang dimasak sampai berubah warna. Yang menyatukan berbagai jenis masakan Palestina ini adalah kecintaan pada zaitun dan yogurt. Khan jatuh cinta dengan makanan Palestina pertama kali pada saat di Tepi Barat 10 tahun yang lalu.

“Salah satu hal tentang Timur―Tengah adalah bahwa apa pun yang terjadi, anda akan memastikan bahwa setiap tamu dihujani makanan dan minuman,” katanya. “Zaitoun” adalah entri terbaru dalam kanon buku masak yang diperluas yang diterbitkan dalam bahasa Inggris yang dengan bangga menyebut nama Palestina. Termasuk “The Gaza Kitchen” karya Laila El-Haddad (diterbitkan pada 2013) dan “The Palestinian Table” oleh Reem Kassis (2017) .

Satu-satunya 'buku masak' Palestina berbahasa Inggris adalah “Classic―Palestinian⁃Cookery,” oleh C. Dabdoub Nasser, diterbitkan tahun 2000 dan digunakan Khan untuk penelitiannya. Menyoroti ketahanan yang ia lihat dalam masakan Palestina adalah aspek penting dari proyeknya. Dia telah menghadapi tantangan untuk misinya. Di Inggris, ia sesekali menerima komentar dari orang asing di media sosial yang mengatakan bahwa makanan Palestina tidak ada.

Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di Brooklyn untuk membuat mussakhan, merendam bawang merah dan ayam kemudian dilumuri dengan sumac. Ayam dipanggang sampai cairannya keluar dari dagingnya dan bawang dimasak sampai menjadi lemas dan manis. Khan menghidangkan dengan roti yang memerah penuh warna magenta sumac. Hidangan ini mewakili esensi dari masakan Palestina yang ditandai dengan ketajaman rasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *