Evolusi Dan Kecerdasan Burung Kolibri

Dewa Perang Suku Aztec adalah Huitzilopochtli yaitu burung kolibri. Suku Aztec menyukai perang dan juga menyukai keindahan burung. Mereka tidak menemukan kesulitan dalam memadukan 2 sifat alaminya yaitu kecantikan seekor burung dan agresi (kemampuan menyerang) para pengganggu.

Para ilmuwan memahami bahwa agresi adalah salah satu bagian yang ada dalam kehidupan seekor burung‐kolibri. Tetapi mereka juga memiliki titik‐buta. Bunga dengan nektar yang terlihat sempurna dan paruh teguk untuk menghisap, jelas menunjukkan bahwa kolibri dibentuk oleh suatu evolusi.

Tampak jelas secara evolusi, tanaman bertanggung jawab atas kolibri. Kebutuhan akan penyerbuk yang handal dan menghasilkan bunga, menuntut bentuk paruh yang panjang dan ramping. Tetapi kebutuhan akan bertahan dan menyerang, evolusi yang berbeda menuntut seekor kolibri harus mampu menggunakan paruhnya untuk fungsi yang berbeda pula. Paruh yang ramping dan halus menjadi senjata yang kuat, tajam dan berbahaya.

Dalam sebuah makalah baru-baru ini yang mengatur dan merangkum 10 tahun penelitian. Tampak seperti tanduk–domba bighorn, paruh burung–kolibri digunakan untuk melawan saingan demi pasangan. Ini adalah seleksi seksual bagian sempit dari seleksi alam, dimana peningkatan peluang kawin adalah kekuatan dominan.

Jantan menggunakan paruh runcing mereka untuk menusuk dan kadang menjatuhkan burung lain dari tempat bertengger. Beberapa burung kolibri bahkan memiliki paruh yang bengkok, dengan gerigi terlihat seperti gigi hiu. Ini hanyalah salah satu temuan Dr. Rico-Guevara yang mengubah cara memahami kolibri. Termasuk cara menggunakan lidah dalam minum nektar, cara yang tidak biasa dalam memproses gula dan evolusi bentuk paruh.

Gary Stiles (seorang ahli terkemuka tentang kolibri) di bawah asuhan Dr. Rico-Guevara menulis tesis tentang bagaimana kolibri berburu serangga untuk melengkapi makanan nektar mereka yang merupakan gula murni. Terobosan penelitian tentang bahasa burung kolibri sedang dilakukan. Penelitian bagaimana burung menyedot nektar dengan bentuk paruh dan lidah dengan aksi kapiler, dimana cairan naik melawan gravitasi karena kekuatan mekanik.

Semua burung–kolibri bertarung, termasuk betina tetapi hanya beberapa spesies yang memiliki persenjataan. Di beberapa spesies, jantan berkumpul di daerah (disebut leks), jauh dari bunga yang mereka makan. Dalam lek, setiap jantan memiliki wilayah dan betina.

Burung–kolibri adalah sumber ilmu yang kaya dan berkembang, mempelajari segala sesuatu mulai dari aerodinamika hingga bagaimana burung memproses sukrosa. ″Dalam hal‐hal yang dapat Anda ukur pada hewan apa pun, seperti metabolisme, mereka ekstrem,″ kata Dr. Altshuler. “Cara lain mereka ekstrem adalah dalam hal spesialisasi mereka“.

Burung kolibri juga menawarkan ”peluang untuk mengeksplorasi batas fisiologi,” kata Dr. Rico-Guevara. Mereka memiliki tingkat metabolisme tertinggi di antara vertebrata dan mereka berspesialisasi dalam melayang, “bentuk penggerak yang paling mahal di alam“. Cara terbang yang istimewa, sangat menarik bagi para perancang robot terbang. ″Semua orang ingin meniru penerbangan burung‐kolibri″, katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *