Fokus dan Tradisi Generasi Baru Pemburu

Menyambut pagi hari yang cerah, yang ada dalam benak saya hanyalah makan dengan sekantong daging rusa yang lembut. Tetapi akhirnya hanya sebongkah cokelat hitam yang saya simpan di saku yang sementara mengisi perut. Saya seharusnya tidak banyak berbicara saat menunggu angsa. Saya punya senapan, tetapi saya tidak pernah membunuh binatang. Itu tidak masalah karena toh tidak ada angsa.

Setelah sekitar lima jam, kawanan kecil angsa mulai mendarat di depan kami. Teriak seseorang. “Bawa mereka!” Semua orang kecuali saya, berdiri dan menembak. Dua angsa Kanada jatuh. Seekor anjing bernama Tug membawa mereka kepada kami dan kami berkemas dan menuju ke dapur untuk di masak oleh  Pak Wade Truong, seorang koki yang mengundang saya ke sini untuk berburu.

Pak Truong (33 tahun) tumbuh dengan bekerja di restoran Vietnam, orangtuanya di Harrisonburg Va. Dia tidak pernah berpikir tentang berburu sampai dia keluar dari Universitas Mary Washington dan mulai memasak secara profesional. Seperti banyak koki muda, Pak Truong memutuskan bahwa ia ingin sedekat mungkin dengan makanannya.

Sembilan tahun yang lalu, dia memutuskan mengambil senapan berburu pertamanya. Dia mengambil kelas keselamatan pemburu, mempelajari manual sniper Angkatan Darat tua dan menuju ke hutan, dia berkata, “terlalu cepat dan kurang siap.” Setelah beberapa kali mencoba, ia berhasil menembak rusa pertamanya. Dia bertekad untuk belajar dan meningkatkan kemampuan menembaknya sendiri.

Dia mempelajari gambar dari Google dan membongkar beberapa tips dari beberapa pemburu. Pacarnya, Rachel Owen (29 tahun) tidak bisa berburu, tetapi dia suka memancing. Keduanya berkumpul ketika bekerja di restoran yang sama, berbicara tentang berburu dikencan pertama. Sekarang, mereka memiliki 30 senjata. Mereka menyimpan toples kaviar kosong di laci dekat meja ruang makan untuk mengumpulkan setiap tembakan yang tersisa di dada bebek.

Mereka menghabiskan waktu bersama dengan memancing dan berburu, dengan tujuan yang jelas yaitu makan protein hewan buruan. Mereka belum membeli daging lebih dari setahun, kecuali lemak babi dan sayap ayam. Sosis membutuhkan lemak babi, kata Mr. Truong, dan “benar-benar tidak ada pengganti untuk sayap ayam.”

Mereka adalah wajah, atau setidaknya dua wajah dari generasi baru pemburu. Jumlah pemburu di Amerika Serikat telah menurun secara perlahan sejak 1982, ketika 16,7 juta orang telah membayar lisensi berburu. Pada 2010, jumlah itu turun menjadi 14,4 juta, menurut catatan United‐States‐Fish dan Wildlife Service.

Pada beberapa tahun ini, angkanya sudah mulai naik, menjadi 15,6 juta pada tahun 2018. Namun, hanya sekitar 5 persen orang Amerika yang berburu usia 16 tahun atau lebih, setengah dari jumlah yang melakukannya 50 tahun lalu. Pendukung olahraga khawatir tentang apa yang akan terjadi jika budaya kesayangan mereka memudar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *