Gerhana Bulan Dan Penabraknya Yang Masih Menjadi Misteri

Pada masa tertentu, mereka yang berada di Belahan Bumi Barat dengan langit cerah maka cukup beruntung melihat gerhana‐bulan total terakhir dalam dekade ini. Saat 'bulan' dengan warna yang jelas lebih merah tepat sebelum tengah malam Waktu‐Timur, terlihat langsung fenomena itu dan ditambah dengan kilatan cahaya tiba‐tiba dan secara singkat memancar dari permukaan bulan.

Anthony Cook, astronom dari 'Griffith Observatory' di Los Angeles yang meneliti tentang gerhana mengira itu hanyalah suara elektronik acak kamera. Kemudian para astronom dan ilmuwan warga mulai membagikan deteksi mereka tentang lampu kilat di media sosial masing-masing. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah bahwa terdapat sesuatu menghantam permukaan bulan dan lenyap begitu saja.

Bulan adalah sumber ilmu pengetahuan tentang peristiwa benturan yang masih berkaitan. Merekam fenomena yang terjadi pada bulan dengan video merupakan hal yang cukup langka, tetapi peristiwa benturan seperti ini selama 'gerhana–bulan–total' dan mungkin menjadi yang pertama. “Saya belum pernah mendengar ada orang yang melihat kejadian seperti ini selama gerhana bulan sebelumnya,” kata Sara Russell, seorang profesor ilmu planet di Natural History Museum di London.

Russell mengatakan bahwa kilatan hanya dapat dilihat dari Bumi ketika permukaan bulan dalam bayangan, yang biasanya hanya beberapa hari sebelum dan sesudah bulan baru. Bulan purnama yang bercahaya adalah hari dimana dimulainya pendeteksian gejala seperti itu, tetapi gerhana⁃bulan⁃total yang menggambarkan keadaan langit kita menjadi pucat dalam kegelapan.

Justin Cowart, seorang mahasiswa pascasarjana di bidang geosains di Stony Brook University di New York yang melihat kilatan cahaya, berhasil memfokuskan penelitian ke dalam satu titik pada bulan. Dengan menggunakan gambar-gambar dari yang diperoleh dari seorang astronom amatir, Christian Fröschlin. Justin Cowart menyimpulkan bahwa kilatan cahaya tersebut terjadi di suatu tempat di dataran tinggi bulan, selatan kawah Byrgius.

Lunar‐Reconnaissance‐Orbiter NASA yang mempelajari permukaan bulan dapat segera menemukan kawah baru. Tetapi dampak kilatan cahaya itu sendiri dapat digunakan untuk memperkirakan secara kasar ukuran objek yang jatuh di bulan dan momentumnya. Berdasarkan data tabrakan dampak NASA dan Badan Antariksa Eropa, Tuan Cowart menduga bahwa “itu mungkin berada di antara ukuran biji pohon ek dan bola tenis.”

Data dari Moon Impacts Detection and Analysis System (MIDAS) menemukan bahwa batu ruang angkasa itu adalah meteoroid hanya berbobot sekitar 22 pound dan berukuran tidak lebih dari 12 inci. Menurut J.M Madiedo, astrofisikawan di Universitas Huelva di Spanyol mengatakan bahwa sebagian besar benda yang menghantam Bumi berasal dari komet dan bukan asteroid dan hal yang sama berlaku untuk bulan. “situasi yang ´paling´ mungkin adalah penabrak itu adalah batu dari sebuah komet,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *