Pizza Mall Mengingatkanku Pada Suasana Rumah

Kamar yang saya tinggali dengan adik laki-laki saya saat pertama pindah ke Amerika Serikat terasa kecil dan gelap. Tampak kurang ideal, tetapi kami sebelumnya pernah tinggal di ruang lebih kecil. Daerah Atlanta dengan cuacanya yang lembab dan terik, jalan raya lebar tetapi kami belum saatnya untuk mengemudi.

Musim panas itu terasa membosankan, kami duduk di trotoar di tempat parkir sembari menahan panas. Orangtua saya sangat sibuk dan piknik adalah suatu kemewahan bagi kami. Hari sabtu itu, ketika ibuku melihat-lihat rak penjualan di mall, aku dan kakakku menatap sepatu yang tidak bisa kami beli dan mengikuti aroma gula.

Aku belum pernah ke food court mall. Bagi kami itu adalah sebuah tempat yang mewah di mana sepotong ayam dibumbui, digoreng lama sampai terasa garing dan tambah lezat dengan saus manisnya. Saya melihat kue-kue terbesar yang belum pernah saya lihat dalam hidup saya seperti kue seukuran pizza.

Pizza ukuran super‐besar. Saya sudah tidak sabar melihat kenikmatan yang akan kami santap pada saat duduk di California‐Pizza‐Kitchen. Perlahan membaca dan mempelajari menu dengan hati-hati kami memesan pizza sesuai keinginan masing-masing, kami semua memiliki alasan sendiri untuk melakukannya.

Saat itulah saya merasakan getaran pertama dari sesuatu seperti cinta untuk Amerika. Bukan yang saya lihat di TV tetapi yang terbentang di depanku sekarang, berminyak dan dihiasi dengan ketumbar segar. Pizza ayam barbekyu tampak seolah-olah itu dibangun di laboratorium agar sesuai dengan selera remaja saya yang simpel dan manis.

Pada saat itu dua mantan jaksa federal membuka lokasi pertama dari California–Pizza–Kitchen di Beverly Hills tahun 1985. Mereka mempekerjakan Ed LaDou, pahlawan pizza Amerika, dia adalah otak di balik pizza salmon asap Wolfgang Puck yang terkenal.

Untuk California—Pizza—Kitchen, LaDou dengan mendesain pilihan lain. Seperti pai yang tajam dan berkulit tipis diolesi dengan saus barbekyu dan dihiasi dengan potongan-potongan kecil dada ayam, bawang merah iris tipis, mozzarella dan smoked Gouda.

Terlalu mudah bagi pengamat untuk mengolok-oloknya. Anda menyebut pizza ini? Tetapi juga segera dan sangat populer. “LaDou adalah tokoh penting dalam fenomena California yang jelas,” tulis Jocelyn Y. Stewart dalam obituari Los Angeles Times LaDou. Pizza-nya akan menjadi warisannya.

Belakangan, saya dan saudara lelaki saya akan belajar bahwa kami tidak seharusnya menyukai makanan mall. Pastinya bukan mall pizza. Tetapi ketika kami masih memiliki kartu identitas dengan kata “alien” di atasnya, kami merasa bahwa pizza mall membantu kami merasa di rumah, meyakinkan kami bahwa ada ruang untuk kami di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *